Dalam in-house seminar atau public seminar, saya sering bertanya.
Anda karyawan?
Anda pengusaha?
Simak deh…
Sekarang kita berandai-andai. Katakanlah, ada seorang laki-laki jahat. Sebut saja, preman. Mungkin ia masih berani mencuri sebuah jambu. Mungkin pula, ia masih berani memakan jambu curian tersebut. Yah, namanya juga orang jahat. Preman. Akan tetapi, beranikah ia memberikan jambu curian itu kepada ibu, istri, atau anaknya? Kemungkinan besar, ia tidak berani. Kenapa? Disadari atau tidak, seorang laki-laki sejati masih berprinsip, “Walau bagaimanapun, keluargaku harus menikmati makanan yang baik-baik. Bukan jambu curian.”
Sebagai motivator Indonesia, saya berusaha menyadarkan peserta.
Sadarkah kita:
- Kalau kita pejabat atau aparat, lalu kita menerima suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita pengusaha atau profesional, lalu kita memperoleh proyek karena memberikan suap, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian!
- Kalau kita karyawan, lalu kita memperoleh uang karena manipulasi atau sejenisnya, berarti kita telah menafkahi keluarga kita dengan jambu curian! Dengan kata lain, kita lebih parah daripada preman yang dikisahkan tadi!
Think…
...
In House Seminar Motivasi, Ippho Santosa, In House Training Karyawan, Pembicara Seminar Motivasi
In House Seminar Indonesia
Dalam in-house seminar atau in-house training, kadang saya mengajak peserta untuk merenung.
Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini?
Dengan sebaik-baik doa?
Ketika kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka? Yang ada, kita malah menomorduakan mereka. Biasanya rumah, makanan, dan pakaian kita jauh lebih baik daripada orangtua.
Yang ironis, biasanya beginilah cara kita ‘berbakti’:
- Begitu kita hidup susah, maka dilantiklah orangtua menjadi pembantu di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bekerja, maka dilantiklah orangtua menjadi babysitter di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bepergian, maka dilantiklah orangtua menjadi satpam di rumah kita. Memang, kita tidak pernah menyebutnya begitu, tapi begitulah pekerjaaan mereka sehari-hari.
Manakala orangtua meninggal, barulah kita tersadar. Kita pun berubah membaik. Mestinya dibalik. Kita berubah membaik dulu, sebelum orangtua meninggal. Tak perlu tunjuk sana-sini. Lebih baik introspeksi. Sekian dari saya, Ippho Santosa, salah satu motivator Indonesia.
Mohon doa ya untuk saya dan orangtua saya.
...
Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini?
Dengan sebaik-baik doa?
Ketika kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka? Yang ada, kita malah menomorduakan mereka. Biasanya rumah, makanan, dan pakaian kita jauh lebih baik daripada orangtua.
Yang ironis, biasanya beginilah cara kita ‘berbakti’:
- Begitu kita hidup susah, maka dilantiklah orangtua menjadi pembantu di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bekerja, maka dilantiklah orangtua menjadi babysitter di rumah kita.
- Begitu kita sibuk bepergian, maka dilantiklah orangtua menjadi satpam di rumah kita. Memang, kita tidak pernah menyebutnya begitu, tapi begitulah pekerjaaan mereka sehari-hari.
Manakala orangtua meninggal, barulah kita tersadar. Kita pun berubah membaik. Mestinya dibalik. Kita berubah membaik dulu, sebelum orangtua meninggal. Tak perlu tunjuk sana-sini. Lebih baik introspeksi. Sekian dari saya, Ippho Santosa, salah satu motivator Indonesia.
Mohon doa ya untuk saya dan orangtua saya.
...
In House Seminar Motivasi Karyawan
Di in house seminar untuk karyawan, saya sebagai motivator sering mengajak peserta untuk berbagi.
"Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak?" tanya mereka. Dan inilah jawaban saya. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
...
"Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak?" tanya mereka. Dan inilah jawaban saya. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Terorganisir. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.
Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.
Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan kata orang. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.
Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.
Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.
Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya! Kebanyakan seperti itu!
Pengemis, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Ya, kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.
Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.
Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dan pemerintah dulu pernah tegas-tegas mengingatkan.
Pesan Nabi Muhammad, "Meminta-minta tidaklah halal, kecuali bagi tiga golongan: si fakir yang sangat sengsara, orang yang terlilit utang, dan orang yang berkewajiban membayar diyat." Jadi, adalah terlarang kalau kita dengan sengaja bersedekah kepada orang-orang di luar tiga golongan ini.
Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan dan Syawal, income mereka bisa melesat sekian kali lipat!
Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Share ya.
...
Dalam In House Seminar, Ippho Santosa Berbagi Inspirasi dan Motivasi untuk Karyawan
Dalam in-house seminar atau in-house training, inilah yang saya serukan kepada peserta, "Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar. Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan alasan-alasan yang tak wajar.
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya? Mereka yang pernah mengikuti seminar motivasi, tentu paham apa yang saya maksudkan.
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
Tepok jidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa
Kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri para pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindarinya. Sekali lagi, menghindarinya. Apa perlu saya ulangi untuk ketiga kalinya? Mereka yang pernah mengikuti seminar motivasi, tentu paham apa yang saya maksudkan.
Ironisnya, inilah alasan-alasan mereka.
- Saat kita menyarankan sesuatu yang baru, alasannya "Saya nggak punya ilmu, nggak punya pengalaman."
- Saat kita memberitahu ilmu dan cara-caranya, katanya "Kamu sok tahu," atau "Ah ini susah," atau "Di sana sih berhasil, di sini belum tentu."
- Saat kita memberitahu investasi yang besar, alasannya "Saya nggak punya uang."
- Saat kita memberitahu investasi yang kecil, alasannya "Hasilnya kekecilan, hasilnya kelamaan."
- Saat teman-temannya sukses duluan, alasannya "Itu kebetulan saja. Nasib orang kan beda-beda."
- Dikasih gratis, murah, atau refund, katanya "Mau memanfaatkan saya? Mau menipu saya? Kamu pikir saya bodoh ya?"
- Dikasih motivasi, tak percaya. Dikasih bukti, katanya pamer. Saat kita berhenti memotivasi, katanya "Kamu lagi bangkrut ya?"
Tepok jidat, hehehe.
Celetukan mereka "Ah, motivator itu ngomong doang. Kalau ngomong doang, aku juga bisa." Oya? Yakin bisa? Sekiranya bisa, berapa orang yang mau mendengarkanmu? Berapa orang yang berubah setelah mendengarkanmu? Perlu dicatat, banyak motivator yang juga bisa action, nggak ngomong doang.
Btw, jangan meremehkan kemampuan ngomong. Bukankah seorang Muhammad, Isa, atau Buddha bisa mempengaruhi miliaran manusia karena kemampuan bicaranya? Bukankah pahlawan sekaliber Bung Karno dan Bung Tomo tak terlepas dari kemampuan bicaranya? Orasi. Belum lagi kalau kita membahas profesi guru, dosen, dan ustadz.
Bagi saya, simple saja. Lazimnya, saya hanya mengajar orang yang siap diajar. Ini sih wajar. Apalagi Robert Kiyosaki pernah berujar, "Jangan mengajari babi bernyanyi." Anda capek, babinya lebih capek. Hehehe.
Saya nggak terlalu tertarik menghabiskan waktu saya hanya untuk meyakinkan mereka yang suka beralasan. Saya capek, merekanya lebih capek. Akan jauh lebih efisien dan efektif jika kita mencurahkan perhatian pada orang-orang yang siap diajar. Ini namanya prioritas.
Saya berharap, Anda memilki mental pemenang. Mau belajar. Nggak beralasan, nggak bermalasan. Sekian dari saya, Ippho Santosa
Seminar Nasional, Seminar Motivasi
Di seminar motivasi atau training motivasi, kadang peserta curhat kepada saya. Yah apalagi, kalau bukan masalah demi masalah. Di seminar nasional, sama saja.
Ada masalah?
Ada utang?
Ada utang?
Introspeksi, berbenah, dan berubah.
Itulah saran saya sebagai motivator.
Insya Allah ada jalan keluarnya.
Kalau setiap ujian saja guru
menyiapkan jawabannya untuk murid-muridnya, apalagi Tuhan kepada
hamba-hamba-Nya.
Guru pun tahu persis, mana ujian
untuk anak SD, mana ujian untuk anak SMP. Apalagi Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.
Semoga teman-teman yang punya
masalah, termasuk masalah utang, segera tersolusikan. Aamiin...
Ippho Santosa telah memberikan seminar di belasan negara, berbagai kementerian dan BUMN. Untuk mengundangnya dalam in-house seminar atau in-house training, SMS 0812-704-9090.
Di Seminar Pengembangan Diri, Ippho Santosa Beri Motivasi SDM
Di seminar motivasi diri atau seminar pengembangan diri, saya sering mengingatkan peserta, "Rasa bahagia perlu dilatih juga dihadirkan. Di mana? Di kantor, di rumah, di jalan, yah di mana saja."
Ketika lunch bareng Harv Eker, ia sebagai motivator berpesan kepada saya, “Jika Anda tak bisa bahagia hari ini, Anda tak akan bisa bahagia kapanpun.” Now or never. Itu betul, tak terbantahkan. Sebagian orang berpikir, kalau punya rumah dan mobil, pastilah dia akan bahagia. Apa iya? Nggak juga. Begitu punya rumah dan mobil, tidak berapa lama dia akan berpikir rumah lain yang lebih besar dan mobil lain yang lebih cepat.
Ketika lunch bareng Harv Eker, ia sebagai motivator berpesan kepada saya, “Jika Anda tak bisa bahagia hari ini, Anda tak akan bisa bahagia kapanpun.” Now or never. Itu betul, tak terbantahkan. Sebagian orang berpikir, kalau punya rumah dan mobil, pastilah dia akan bahagia. Apa iya? Nggak juga. Begitu punya rumah dan mobil, tidak berapa lama dia akan berpikir rumah lain yang lebih besar dan mobil lain yang lebih cepat.
Sebagian lagi
berpikir, kalau jadi manajer, pastilah dia akan bahagia. Padahal belum tentu.
Begitu jadi manajer, dia akan berpikir jadi direktur. Begitu jadi direktur, dia
akan berpikir jadi komisaris. Yang lain berpikir, kalau punya istri, pastilah
dia akan bahagia. Padahal belum tentu. Begitu punya istri, dia akan berpikir
soal anak. Begitu punya anak perempuan, dia akan berpikir soal anak laki-laki.
Dan seterusnya. Lha, kapan selesainya?
Untuk dua menit ke
depan, coba bayangkan ini:
-
Misal, setelah dipikir-pikir, Anda akan merasa bahagia
jika menjadi direktur.
-
Lalu Anda berhasil menjadi direktur di usia 40 tahun. Itu
artinya, selama 39 tahun Anda tidak merasa bahagia alias sengsara!
-
Setelah berhasil menjadi direktur, apakah benar Anda
merasa bahagia? Iya sih, tapi cuma enam bulan. Setelah enam bulan, Anda mulai
memikirkan hal yang lain!
-
Mestinya Anda memutuskan untuk bahagia detik ini juga,
tak bersyarat!
Ada satu publikasi yang membuat mata saya terbelalak. Dalam
seminggu, waktu yang paling membahagiakan adalah pukul 19:26 pada Sabtu malam. Ini
menurut Daily Mail. Dan secara rata-rata, usia yang paling membahagiakan adalah
usia 34 tahun. Lagi-lagi,
ini menurut Daily Mail. Nah, mulai sekarang Anda boleh membantah publikasi itu.
Karena Anda telah memutuskan untuk bahagia selama-lamanya, tak bersyarat!
Siap?
Ditulis oleh Ippho Santosa, International Trainer yang rutin diundang berbagai kementerian dan BUMN. Ia juga sering memberikan seminar motivasi di belasan negara, termasuk Amerika, Australia, New Zealand, Jepang, Korea Selatan, dll. Untuk mengundangnya dalam in-house seminar SMS 0812-704-9090.
Di In House Seminar, Ippho Santosa Berikan Materi Motivasi Diri
In house training saya...
Anda pernah ikut?
Kadang di seminar saya sebagai motivator menyinggung soal Donald Trump. Yah, siapa yang nggak mengenalnya? Dia pengusaha, juga penulis.
Bedanya dengan yang lain, ia selalu mengundang kontroversi.
Alwaleed Bin Talal, Pangeran Arab dan salah satu orang terkaya di dunia mengecam Donald Trump karena ucapannya yang mengandung SARA. Bahkan CEO Facebook, CEO Google, CEO Amazon, dan CEO Qatar Airways turut mengecam.
Karena saya pernah bertemu dan dinner bareng Donald Trump, maka banyak orang yang bertanya-tanya tentang sikap saya. Jujur saja, dulu saya sempat antusias ketika bertemu dengannya. Belajar. Namun ketika ia mengeluarkan pernyataan yang SARA dan memojokkan muslim, saya pun turut mengecam (Sekiranya ia memojokkan penganut agama yang lain, tentulah saya akan mengambil sikap juga).
Belajar, yah belajar. Namun, kritis dan tegas itu harus. Mana mungkin saya diam saja? Dan saya lihat sendiri, orang-orang yang seagama, seras, bahkan separtai dengan Donald Trump pun turut menyesalkan kejadian ini. Sebagian dari mereka menyebut kejadian ini sebagai aib bagi Amerika.
Terlepas dari itu, benarkah Amerika selama ini anti sama Islam? Tergantung, dari sudut mana anda memandang. Yang jelas, muslim di sana bebas menggelar pengajian atau sejenisnya secara massal. Termasuk soal kerja. Jauh berbeda dengan Arab Saudi, yang justru memperketat. Sebagai negara kerajaan, Arab Saudi sangat kuatir dengan massa yang berkumpul.
Kembali ke Amerika. Ustadz Shamsi Ali, imam di New York, juga menunjukkan kegelisahan atas pernyataan SARA Donald Trump itu. FYI, muslim telah hadir di benua Amerika sejak lama, bahkan sebelum datangnya Columbus. Barack Obama dan Steve Jobs (Apple) pun keturunan muslim. Belum lagi atlit, artis, pengusaha, dan politisi mereka. Banyak yang muslim. Misalnya Muhammad Ali, Janet Jackson, dan Ice Cube.
Pelajaran berikutnya bagi kita, lihatah, agama sering dicatut oleh sebagian politisi demi popularitas sesaat. Anda keluarkan saja kalimat yang menyudutkan agama tertentu, maka seketika anda akan populer. Tentunya, populer secara murahan, menambah musuh, dan mengundang rusuh.
Hidup adalah kumpulan pelajaran. Ada pelajaran yang baik. Ada juga pelajaran yang buruk. Ini sering saya sampaikan di seminar-seminar motivasi. Jelas, sikap SARA Donald Trump adalah pelajaran yang buruk. Sangat buruk.
Langganan:
Postingan (Atom)












